September 2011
Ceritanya begini.
Kan ada yang jadi tukang sapu.
Ada yang jadi dokter.
Ada yang jadi pejabat.
Yang jadi presenter acara wildlife juga ada.
Cleaning service juga semua perusahaan butuh.
Ada lagi yang namanya ahli perias mayat.
Dan beragam profesi lainnya.
Eh tiba-tiba ada tuh yang ngaku-ngaku profesinya namanya Desainer. okelah karena kasusnya saya yang cerita, saya spesifikin deh jadi Desainer Grafis.
Coba yang baca ini, menurut elo-elo pada Desainer Grafis tuh apaan? 1. Orang yang jago komputer 2. Yang jago Corel Draw 3. Yang jago gambar 4. Seksi dokumentasi kalo acara nikahan keluarga 5. Penjaja stan Lukis Wajah jadi 5 menit di mall-mall 6. Desainer kaos-kaos distro anak muda yang gambarnya tengkorak, kotak-kotak, segitiga, warna cerah menyolok dan trendy 7. isi sendiri untuk seterusnya. Well, sebenernya ga ada yang salah sih, semuanya bisa dibilang Desainer Grafis juga. Tapi kalo lo cuma nyebut seorang DG itu orang yang profesinya salah satu dari list di atas, ih guys bisa dibilang itu rasanya kayak makan mie ayam yang bumbunya kebanyakan jadi kayak isinya kecap semua, hitam hitam geuleuh. NGGA, aku nulis list di atas ga maksud menyepelekan pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Semua orang punya caranya masing-masing untuk memenuhi kewajibannya menjadi khalifah di dunia. Tapi ya tentu punya tingkatan-tingkatan sendiri, ya kan? Ada yang pake otot aja, ada yang pake otak aja, ada yang pake otot dan otak, dan lain-lain. Tapi ga berarti profesi-profesi itu ada yang ga penting. Menurut saya semua profesi itu berharga, yang membedakan hanya harga dan kualitas. Selebihnya, saya yakin apapun tingkatan pekerjaan, orang-orang yang melakukannya pasti semua tujuannya mulia. Nah terus, ada beberapa kisah : 1. Seorang teman, anak mesin, pastilahya anonim. Kenal saya dari kepanitiaan ospek tahunan ITB. Dan di fakultasnya lagi mau ngadain suatu acara yang butuh desain buku proposal sponsorship. Tentu saja untuk ukuran sponsorship dan layout-layout menyehehe ga gampang, dan doi hanya memberi waktu seminggu. Begitu saya tanya, berapa anggaran yang disediain buat pembuatan proposal? OKE, 150 RIBU RUPIAH. Tertarik? tanyanya padaku. HELL NO MY FRIEND. #1 : Kalo waktunya mepet, duitnya ga harus mepet kan? 2. Terus ada temen saya nih, sebut saja si Otot. Kliennya dari anak fakultas bagian bisnis. Ceritanya sang klien hendak bikin perusahaan startup untuk memenuhi tugas kuliahnya (semacam itulah pokoknya). Dan beliau memesan lumayan banyak item-item yang butuh jasa desain. Terus tau gak, beliau menawar berapa? 500 RIBU RUPIAH. WOOOT. Saya ga bisa merincinya jujur aja lupa, tapi saya tau 500 tuh ga cukup. Dan si Otot pun pada awalnya terima-terima saja. Namun, pada kenyataannya, pesanan2 susulan terus berdatangan dan banyak revisi sana revisi sini. Oke deh sama-sama mahasiswa. Sama-sama miskin, sama-sama belajar. TAPI MENGHARGAI ORANG ITU UDAH BELAJAR DARI JAMAN SD KAN? #2 : Desain ga sehari jadi, mengapa? Karena mengerti Anda adalah tugas kami.
3. Nah ceritanya lagi, organisasi eksekutif mahasiswa di sini butuh banyak jasa Desainer nih. Tapi saya pernah nanya, budget yang mereka sediakan untuk jasa desain berapa per acara? Oh, ga banyak kok, ujar salah seorang teman saya, pejabat organisasi eksekutif tersebut. Kalo ga salah 300 RIBU RUPIAH. Dan itu sudah termasuk poster, logo, baliho, dan lain lainnya. Oke saya mengerti, kocek mahasiswa emang ga seberapa. Mahasiswa itu ngekos, ga makan enak, banyak kegiatan, bayar kosan dan lain-lain. #3 : Kalo mau murah, tuh ada tukang jasa desain murah 15ribuan. Lebih cepat lebih murah. hemat kan? SUER.
4. Menurut cerita dari kembarannya pacar saya, yang kuliah di fakultas yang erat dengan hal-hal soal bumi, banyak yang mencibir pelajaran-pelajaran kami absurd. Cuma bisa gambar doang ngapain ada ilmunya? Ciyeee, yang ngerasa ilmunya berguna, ciyeee yang ngerasa ilmunya level tinggi, ciyeee yang ngerasa ilmunya penuh rumus-rumus tingkat mahadewa. Berarti jadi desainer gampang? Okedeh, kalo bikin acara bisa sendiri kan desain poster-posternya? AH APA? GA BISA GAMBAR? LOH KATANYA GAMPANG? PIYE TOH? #4 : Kami juga punya kok kajian ilmu, kami juga harus bikin research, kami juga menggambar dengan berpikir. Cuma beda cara doang, itu aja. 5. Kuliah dimana? ITB. Jurusan apa? Seni Rupa, desain grafis. Oh, seni rupa? Nanti kalo udah lulus mau kerja apa emang? Mau jadi pelukis jalanan. YAKALE. Oke ga maksud bilang pelukis jalanan itu buruk, tapi jujur aja untuk konteks Indonesia yang masih notabene pilih kasih profesi, pelukis jalanan kesannya masih buruk, dan lingkungan ga dukung. Om, tante, bapak, ibu, semuanya deh. Kerjaan kami banyak kok, sebutin ya : Art Director, Sutradara, Animator, Ilustrator, Industri Game, Web Designer, Advertising, Video Klip, Desainer Kartu Undangan, Logo Perusahaan, Filmmaker, dan lainnya. Ga ngerti itu ngapain aja? Ya salah sendiri, taunya dokter sama insinyur doang. Padahal bapak-ibu om-tante sekalian kerja di perusahaan berduit banyak yang dipandang elit & bergengsi karena logonya. Haha. #5 : Desainer Grafis juga profesi. Bukan Tukang Gambar. OKE, udah deh bacotannya 5 saja. Maaf kalo isinya banyak hal-hal yang negatif. Sumpah ini curahan hati saya di awal semester 5. Dimana kami mahasiswa tingkat 3 tentunya sudah mulai berpikir ke depan tentang hidup dan pekerjaan. Tapi bagaimana kami kaum otak kanan (kebanyakan), bisa bertahan hidup kalau masyarakat awam sebagai stok klien kami masih menganggap rendah profesi kami? Bahkan di lingkungan kampus saja, beberapa pihak fakultas lain yang maaf tanpa maksud menyinggung, masih mencibir dan menganggap pekerjaan kami mudah, asal gambar doang. Padahal mereka juga butuh. Maaf teman-teman, tidak. SAMA SEKALI TIDAK. Kami butuh dihargai, ini bukan masalah harga atau uang dengan jumlah banyak. Tidak, kami sama-sama mahasiswa, sama-sama miskin, kere, sama-sama berjuang jadi khalifah-khalifah bumi berkualitas. Kami dituntut untuk mengerti anda, apa yang anda mau. Berjam-jam duduk di depan komputer yang notabene merusak mata, jam tubuh, dan masalah kesehatan lainnya. Yang kami capai abstrak, perasaan, bukan nilai-nilai pasti yang bisa diraba seperti rumus-rumus, yang ada kepastian kapan mulai dan kapan berakhir. Kami harus bergelut dengan tugas kuliah yang sama banyak kayak anda-anda, tapi pulangnya langsung ngerjain pesanan dari anda-anda, dimana bisa saja tidur baru jam 3 subuh, proses untuk membahagiakan anda-anda panjang, konsep sana-sini, sketsa-sketsa sampai puas, belum ada revisi, atau mungkin penolakan konsep, juga tes print ke berbagai percetakan yang bahkan banyak dari mereka memberi pelayanan yang tidak memuaskan kepada kami, dan masih banyak proses-proses pekerjaan kami yang tidak seterlihat seperti dokter atau insinyur. Akhir kata, tulisan blog ini memang curhat, tapi tanpa maksud mengemis penghargaan. Kami hanya ingin dihargai sepantasnya. Profesi kami selevel dengan teman-teman sekalian, plis berhentilah berpikir profesi/keilmuan yang satu lebih penting daripada yang lain. Ingat, peran kami adalah pembentuk persepsi, kami adalah hiburan bagi kalian, kami adalah pemecah masalah bagi kalian juga, kami pemuas nafsu kalian, kami pembawa pesan kalian, kami adalah apa yang anda tonton, anda baca, anda lihat, ANDA RASA, ANDA SENANG, ANDA SUKA. KAMI, profesi otak kanan (atau biasa disebut begitu) memiliki tugas mulia dari Sang Maha Esa sebagai: UJUNG TOMBAK NILAI BUDAYA. ini tugas mulia profesi kami, apa tugas mulia profesimu? temukanlah, dan mari bersama-sama bersinergi satu sama lain
-terimakasih, maafkan bila ada kata-kata yang kurang mengenakkan dan bila ada kekurangan- . . . . . . . kepada siapapun yang membaca. ini memang curahan hati saya sebagai desainer. tapi aku, kamu, anda, kami, kalian, semua. kita semua harus mengingat semua profesi dan keilmuan adalah mulia, ia memiliki peran masing-masing memang ada tingkatan level, tapi semua profesi butuh penghargaan dan apresiasi yang sama. kita semua khalifah-khalifah di bumi yang tujuannya sama dengan cara untuk mencapai yang berbeda. mari saling menghargai.
menohok. curcol saya pisan.
Karel van Mander (1548-1606), salah seorang cendekiawan pertama yang membuat buku tentang pelukis dan lukisan, menuliskan nasehatnya untuk para seniman. Banyak pointnya masih sejalan dengan kondisi kontemporer ;)
Do not waste time. Do not get drunk or fight.
Do not draw attention by living animmoral life.
Painters belong in the environment of princes
and learned people. They must be polite to their
fellow artists. Listen to criticism, even that of the
common people. Do not become upset or angry
because of adverse criticism. Do not draw special
attention to the mistakes of your master. Food is
neither praise nor blame to yourself. Thank God
for your talent and do not be conceited. Do not
fall in love too young and do not marry too soon.
The bride must be at least ten years younger than
the groom. While traveling avoid little inns and
avoid lending money to your own compatriots in
a foreign country. Always examine the bedding
most carefully. Keep away from prostitutes, for
two reasons: It is a sin, and they make you sick. Be
very careful while traveling in Italy, because there
are so many possibilities of losing your money and
wasting it. Knaves and tricky rogues have very
smooth tongues. Show Italians how wrong they
are in their belief that Flemish painters cannot
paint human figures. At Rome study drawing, at
Venice painting. Finally, eat breakfast early in the
morning and avoid melancholia.
He has a diary, a favourite ring and necklace, a tiara, a special cup, a pet he adores, and an obsession with a famous teenage boy.